Secangkir Teh Hangat

Secangkir Teh Hangat

disadur dan dialih bahasakan dari A Nice Cup of Tea oleh George Orwell untuk Evening Standard, 12 Januari 1946

Jika anda mencari ‘teh’ dalam buku resep di sekitar anda, mungkin anda tidak akan mendapatkannya disebut; atau paling tidak anda akan menemukan beberapa baris instruksi kurang jelas yang tidak memberi ketentuan akan hal-hal yang justru penting.

Mengherankan, tidak saja karena teh merupakan salah satu lakon utama peradaban negeri ini (Inggris — penj.), melainkan juga di Eire, Australia dan Selandia Baru, pun karena cara paling sahih untuk membuatnya adalah subyek perselisihan paling serius.

Ketika saya menengok resep saya sendiri untuk secangkir teh yang sempurna, saya menemukan tidak kurang dari sebelas poin penting. Paling tidak dua dari sebelas tersebut adalah persetujuan awam saja, namun setidaknya empat darinya merupakan bagian yang sangat kontroversial. Berikut adalah sebelas aturan saya, yang setiap gagasannya adalah berharga laiknya emas:

  • Pertama-tama, seseorang haruslah membuat teh India atau Ceylon. Teh Cina mempunyai sifat yang tidak bisa ditolak belakangan ini — ia ekonomis, dan siapa pun dapat meminumnya tanpa susu — namun tidak banyak rangsangan di dalamnya. Seseorang tidak akan merasa lebih bijak, lebih berani, atau lebih optimis setelah meminumnya. Siapa pun yang menggunakan frasa melenakan ‘secangkir teh hangat’ tanpa penjelasan lebih lanjut berarti merujuk kepada teh India.
  • Kedua, teh haruslah dibuat dalam jumlah sedikit — tak lain, dalam teko. Teh yang dibuat dari dalam guci selalu hambar, sementara teh tentara, dibuat dengan kuali, pekat dengan rasa minyak dan sabun. Teko yang disarankan hendaknya terbuat dari keramik atau tanah liat. Teko perak atau Britanniaware menghasilkan teh kualitas rendah dan teko enamel adalah yang paling buruk; tapi sungguh penasaran, teko dari timah— yang belakangan langka, menghasilkan teh yang tidak buruk-buruk amat.
  • Ketiga, teko sudah harus dihangatkan sebelumnya. Lebih baik dilakukan dengan meletakkannya di atas tungku, alih-alih metode wajar dengan membasuh bagian dalam teko dengan air panas.
  • Keempat, teh yang diseduh haruslah kuat. Untuk teko yang dapat menampung seliter, jika anda ingin mengisinya hingga mencapai bibir teko, enam sendok makan penuh sudah sangat cukup. Perkara menakarnya, saran ini bukanlah ide yang dapat ditunaikan setiap hari, namun saya bersikukuh bahwa secangkir teh yang kuat lebih baik dari dua puluh cangkir teh biasa. Semua pecinta teh sejati tidak saja menyukai tehnya kuat, tapi juga semakin kuat tiap lewat tahun — sebuah fakta yang diakui dalam penakaran lebih untuk para pensiunan.
  • Kelima, teh harus langsung dituang ke dalam teko. Tanpa saringan, kantong, ataupun alat lain yang memenjarakan teh. Di beberapa negara, teko telah dilengkapi dengan keranjang di bagian penuang untuk menyaring daun-daun yang tercecer, yang dianggap dapat menyakiti. Sebenarnya, seseorang dapat menelan daun teh dalam jumlah mencengangkan tanpa efek samping buruk, pula jika teh tidak dibiarkan bebas dalam teko, ia tidak akan terserap secara sempurna.
  • Keenam, haruslah membawa teko ke air panas dan tidak sebaliknya. Air wajib dalam keadaan sedang mendidih ketika dituangkan, artinya api tetap dinyalakan saat dituangkan. Beberapa orang menyarankan untuk hanya menggunakan air yang baru saja mendidih, tapi saya tidak pernah memerhatikan adanya perbedaan dari keduanya.
  • Ketujuh, setelah membuat teh, haruslah diaduk, atau lebih baik, goncang teko dengan mantap, menpersilakan daun-daunnya untuk ikut larut.
  • Kedelapan, haruslah minum dari cangkir yang baik — yaitu, tipe cangkir silindris, bukan tipe yang datar dan dangkal. Cangkir menampung lebih banyak, dan dengan cangkir jenis lain teh akan selalu setengah dingin sebelum dapat dinikmati.
  • Kesembilan, wajib hukumnya untuk menyingkirkan krim dari susu sebelum digunakan untuk teh. Susu yang mengandung terlalu banyak krim selalu meninggalkan rasa yang membikin mual.
  • Kesepuluh, wajib menuangkan teh ke dalam cangkir terlebih dahulu. Ini adalah poin paling kontroversial dari semuanya; benar bahwa di tiap rumah tangga Inggris barangkali ada dua mazhab terkait hal ini. Mazhab susu-dahulu dapat menyajikan beberapa argumen yang cukup kuat, tapi saya tetap bersikukuh bahwa argumen saya tidak dapat dibantah. Adalah karena, dengan menuangkan teh terlebih dahulu dan mengaduknya selagi dituang, seseorang dapat mengukur banyak susu, sementara di sisi lain seseorang rentan akan menuangkan terlalu banyak susu jika menggunakan cara sebaliknya.
  • Terakhir, teh — kecuali seseorang meminumnya dengan gaya Rusia — haruslah diminum tanpa gula. Saya paham bahwa saya adalah minoritas untuk soal ini. Pun, bagaimana bisa anda mengaku sebagai penikmat teh jika anda menghancurkan rasa teh dengan menaruh gula di dalamnya? Akan sama masuk akal dengan meletakkan merica atau garam sekalian. Teh sejatinya memang pahit, sebagaimana bir sejatinya pahit pula. Jika anda memaniskannya, anda tidak lagi menjamah teh, anda hanya akan menjamah gula; anda dapat membuat minuman yang sama dengan melarutkan gula pada air panas begitu saja.

Beberapa akan menjawab bahwa mereka tidak menyukai teh sebagai teh itu sendiri, bahwa mereka hanya meminumnya hanya untuk dihangatkan dan dirangsang, dan mereka membutuhkan gula untuk menghapus rasa pahitnya. Kepada mereka yang tersesat ini saya akan bilang: Cobalah minum teh tanpa gula, katakanlah, untuk semalam dan hampir mustahil bagi anda untuk kembali merusak teh dengan memaniskannya.

Esai ini bukanlah satu-satunya poin kontroversial yang muncul terkait dengan minum teh, namun cukup untuk menunjukkan betapa diremehkannya urusan ini. Juga adanya etiket sosial misterius di sekitar teko (mengapa minum dari cawan dianggap tidak sopan, misalnya?) serta mungkin telah banyak tulisan tentang kegunaan lain dari daun teh, seperti meramal, memprediksi kedatangan tamu, pakan kelinci, menyembuhkan luka bakar, dan sapu karpet. Adalah sama bergunanya untuk memperhatikan detil seperti menghangatkan teko dan menggunakan air yang benar-benar mendidih, agar dapat menyarikan seluruh takaran untuk dua puluh cangkir, masing-masingnya mengandung dua ons yang kuat lagi hangat serta ditangani dengan baik, sebagaimana seharusnya.


Discover more from Kasat Kata Kultur

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a comment