Antarmasa

Antarmasa

“Sial! Sial! Sial!”

Peluh dingin memenuhi wajah Ashr. Ujung jarinya lepuh karena dijentikkan berkali-kali. Di belakangnya gemuruh dan sengat semakin lantang. Mata Ashr berair dan memerah, menahan tangis yang bercampur peluh, asap, debu, dan abu. Jarinya masih berusaha menjentik, mengharapkan reaksi.

Kala gemuruh dan sengat terasa hanya berjarak dua depa dari punggung, terdengar sebuah dentuman. “Akhirnya!” Ashr berseru sembari memperhatikan udara yang melesap menjadi merah, hitam, dan putih seketika di ujung jarinya. Sebelum gemuruh dan sengat ada di belakang telinga, Ashr sudah lenyap meninggalkan abu, debu, dan asap.

“Kau tahu, waktu itu sejatinya panas,”

Ashr mengunyah apel di samping meja kerja Newton. Terhenyak, Newton mengangkat wajahnya dari teleskop dan memandang Ashr heran, “Panas?”

“Hukum termodinamika pertama, energi tidak binasa, ia hanya berubah wujud.”

Ashr menjentikkan jarinya. Udara melesap menjadi bercak hitam, merah, dan putih di ujung jarinya, diikuti dengan suara dentuman. Newton menggeleng, kemudian kembali menekuri teleskopnya.

“Maka, ia mengisyaratkan bahwa apa yang terjadi pada masa lampau, kini, dan nanti merupakan unit energi yang sama belaka di tataran alam semesta ini,” Ashr mengoceh sembari mengunyah neapolitan pizza-nya. Rovelli menutup bukunya, “Apa yang kamu lakukan, secara teori dapat merobek jaring realitas. Pilih sebuah masa dan tinggallah di sana.”

“Masih teori, bukan?”

“Ya kau yang beritahu aku, apakah teori belaka?”

“Hei, bukan aku yang punya doktoral di bidang fisika teoritis.”

“Terserah sajalah. Kau tadi mau bilang apa?”

“Tapi, waktu bergerak. Waktu mempunyai arus. Apakah yang kekal ini tidak terkikis? Bagaimana caranya?”

Ashr kembali menjentikkan jarinya. Kantor Rovelli berpendar sekejap. Ashr lenyap, Rovelli kembali menekuri bukunya.

“Jawabannya ada di hukum termodinamika kedua, panas mampu mengalir dengan memindahkan sejumlah kalor,” Ashr berbisik di telinga Newton yang sedang merenung di pokok pohon apel. Newton mengangkat wajahnya, memandang wajah Ashr yang berselimur jelaga. Newton baru saja membuka mulutnya ketika sebuah apel jatuh menutuk kepalanya. Wajah Newton berbinar, gegas ia mengemasi alat tulisnya dan kembali ke ruang belajarnya. Ashr membersamai langkah Newton sembari terus mengoceh, “Perpindahan ini mempengaruhi perpindahan massa benda, seperti angin yang bergerak dari daerah panas bertekanan tinggi ke daerah yang lebih dingin bertekanan rendah,

“Maka, hal ini membuktikan bahwa massa sejatinya adalah panas. Semakin besar massanya, semakin panas ia. Pula semakin besar massanya, ia tidak saja mempengaruhi kontur ruang, melainkan juga waktu.” Ashr menyadari bahwa Newton masih mengabaikannya, menggumam sendiri sembari sesekali masih menoreh sesuatu di atas buku. Ashr menggeleng, kemudian menjentikkan jarinya.

“Namun apakah waktu sendiri itu akan berhenti, atau boleh dikata…membeku? Hukum termodinamika ketiga menyebutkan perkara zat yang diam pada suhu nol derajat. Ia mati karena tidak ada kalor. Ia beku karena tidak ada perubahan energi.” Rovelli baru saja pulang dari orientasi mahasiswa baru ketika dilihatnya Ashr mengoceh soal termodinamika di kasur asramanya. “Maka,” lanjut Ashr, “waktu membeku jika…oh, tidak.” Lekas-lekas, Ashr menjentikkan jarinya, meninggalkan Rovelli yang ternganga.

Ashr mendapati dirinya di sebuah gurun berkomat-kamit, “Hukum termodinamika pertama, kedua, ketiga…” Disusurinya gurun itu ketika didapatinya sesosok manusia di ufuk gurun yang membeku. “Hukum termodinamika nol, jika benda bermassa A dan B memiliki keseimbangan termal dengan benda C, maka benda bermassa A dan B memiliki keseimbangan termal dengan satu sama lain,” Ashr tersentak, “maka jika massa adalah waktu…” Ashr terkesiap, buru-buru menepuk telapak tangannya sehingga badai dingin bergerak menuju sosok di ufuk. Di tengah dera deru gemuruh dan sengat bunga es, Ashr berderak memaki,

“Sial! Sial! Sial!”


Discover more from Kasat Kata Kultur

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a comment