Dari Tanah

Dari Tanah

“Begitu.”

Tepuk tangan membahana saat Mudajrid mengakhiri ceramahnya dalam pembukaan pameran di galeri kota. Dia tadi membicarakan tentang betapa pentingnya membawa kemanusiaan, alam, dan spiritualitas dalam seni dan bagaimana membuat sebuah karya yang memanusiakan. Aku sedang menekuri omongannya, mencoba mencerna ide-ide besar yang barusan dia utarakan.

Aku sendiri tidak banyak tahu soal Mudajrid, selain bahwa dia adalah pelukis impresionis terkenal. Omongannya ditelan sebagai kanon dan kanun seni lokal. Sketsanya bernilai jutaan, goresan kuasnya menghasilkan milyaran dalam kisaran harga paling rendah. Entah berapa duit yang dikeluarkan promotor, kurator, dan pemilik galeri untuk mengundangnya bicara. Namun yang jelas, tidak murah.

Aku membayang di antara pemirsa yang sedang berebut menyalaminya. Setengah dari mereka adalah seniman setengah baya yang tidak jua bersinar; sepertinya berusaha mencari koneksi ke medan seni aras tinggi (baca: mahal). Seperempat dari mereka adalah para seniman muda yang sebagian terobsesi pada gaya kitsch seni modern, sebagian lagi pemuja wacana seni lokal yang masih bingung membedakan pasca- dan de-kolonial. Seperempat lainnya, merupakan campuran wartawan-wartawan desk budaya dan penikmat seni, baik yang kasual maupun yang terlampau serius.

Mudajrid tampak menikmati sekali kesohorannya. Sesekali dia menyerobot obrolan para seniman setengah baya, kelihatan sekali menggurui. Ketika ada seniman muda mendekat, dia hanya memicingkan mata dan tidak mengindahkan mereka. Kecuali jika mereka ini perempuan, senyumnya yang kurang ajar jumawa merekah lebar sekali. Aku terkekeh saja menyaksikannya.

***

Aku baru tiba di kota ini beberapa jam sebelum Mudajrid memberikan ceramahnya. Seorang kakek dan cucunya memintaku untuk memberi keadilan. Aku memperhatikan kejadian yang membuat si kakek dan si cucu komat-kamit memanggilku sembari gemetar.

“Sudah tua tidak punya tata krama!”

“Maaf sekali, Pak. Biasanya saya ke sawah lewat sini!”

“Tidak peduli! Apa matamu buta tho, apa tidak lihat ini batas-batasnya?! Seperti anjing saja!”

Si cucu menangis gemetar, si kakek terkesiap, “Mohon maaf beribu maaf, Pak. Saya kira patok itu penanda belaka, saya sudah sepuh, mau jalan memutar juga jauh sekali…”

“Tidak peduli!”

Si kakek dan cucu memutuskan memutar. Si kakek menenangkan cucunya yang masih terguncang dan menangis tersedu-sedu. Di tempat kejadian, orang yang membentak tadi berdehem. Dengan wajah merah padam, dia berbalik menyeberangi pekarangan menuju rumahnya. Tampak dia sedang bersiap-siap, karena malam ini dia akan berceramah sembari membuka pameran di galeri kota. Aku mengangguk-angguk takzim.

***

Mudajrid menyetir pulang, dan aku berdecak heran di kursi belakang. Mudajrid tampaknya masih terlampau mabuk oleh euforia untuk menghiraukanku. Sesekali dilihatnya layar gawai, menampilkan profil Instagram salah satu seniman muda perempuan yang menghampirinya tadi. “Hmmm…hmmm,” girang betul rupanya Mudajrid. Sesekali terdengar siul nyaring. Aku kembali berdecak sembari menggeleng-geleng.

Mudajrid masih tidak menyadari keberadaanku, atau mungkin tidak bisa. Tidak tahu juga. Dia beranjak turun dari mobilnya dan masuk ke rumahnya, sementara aku berkeliling di pekarangannya. Aku mengajak bicara tanaman-tanaman pekarangan yang setengah mati dijaga Mudajrid dengan bentakan itu.

***

Ini sudah hari kedua belas semenjak aku mengajak bicara tanaman dan pekarangan Mudajrid. Dari jauh, aku dapat melihat pekarangan tersebut menjelma menjadi tanah buangan. Setiap tanaman yang tumbuh meranggas, setiap petak tanah menjadi kerak. Sumur di rumah Mudajrid kering kerontang, sementara setiap saluran air dari pemerintah menguap. Aku mendapati Mudajrid sedang berupaya melukis. Sayangnya, setiap sapuan kuas tidak menyisakan apa-apa di kanvas selain debu. Mudajrid menangis, dalam tangisnya dia memanggilku,

Duh Dewi Sri, paringono ngapunten.


Discover more from Kasat Kata Kultur

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a comment