“Maaf, Bu. Pelayanan sudah kami tutup.”
Jam masih menunjukkan pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Wajarnya, istirahat makan siang belum mulai untuk paling tidak hampir dua jam lagi. Aku termangu mendekap folder di depan loket. Melihatku menatapnya nanar, perempuan paruh baya di balik loket itu mulai bermasam wajah.
“Layanan sudah kami tutup jam sebelas, Bu,” ulangnya, ketus.
“Bukankah istirahat makan siang mulainya paling tidak jam setengah dua belas?” tanyaku.
“Sebentar lagi jam segitu, Bu.”
“Tidak, jam saya menunjukkan paling tidak satu jam dua puluh menit lagi.”
Wajahnya sudah tertekuk, aku tersenyum kecut. “Ibu mau ngurus apa? Kok ga dari pagi?” tanyanya, masih ketus. Di balik senyum yang kadung masam, aku membalas, “Saya sudah di sini sejak jam setengah sembilan, dan loker baru buka jam sembilan. Saya yang harusnya bertanya, kok ga buka dari pagi?”
Wajahnya memerah, “Ya sudah, mana berkas Ibu?” Kemudian aku menyerahkan folder yang sudah agak lembab oleh keringat—karena sedari pagi kudekap pada terik-teriknya hari. Ia menerima berkasku sembari ngedumel, menyebut-nyebut tentang janji arisannya yang batal. Dibolak-baliknya berkasku, wajahnya masih mempertontonkan lakon senewen.
“Waduh, Bu. Ini berkasnya kurang lengkap.” Aku terhenyak, “Kurang apa memangnya, Bu?”
“Ini Ibu belum minta surat dari Ketua RT, Ketua RW, tanda tangan Kadus, Kades, surat pengantar dari Camat…” ia melanjutkan menyebut keperluan berkas-berkas yang tambah banyak saja rasanya. Kepalaku berdentam, sisi sebelah tempurungku terasa dihantam dengan palu dari dalam tengkorak. Aku sudah tidak mendengar apa saja yang didaftar perempuan di balik loket itu ketika ia menyerahkan kembali berkasku dengan tersenyum miring, “Besok datang lagi, Bu.”
Ini sudah hari ketigaku kembali ke loket ini. Gontai aku melangkah menjauhi loket, mendekati wilayah rumahku yang dipenuhi patroli aparat.





Leave a comment