Resiliensi
Mengapa beruang air begitu mungil? Daya tahan adalah sebab anak-anak babi di kelopak lumut menjelma seka di tepi mulut. Kepala hampir putus dipenggal pancaroba, tapi delapan lengan gemuk pelangkah lamban menjadi monumen akan sintasnya kamu dijerang dan dibekukan pada ruang-ruang hampa atau pekat oleh jelaga, lumpur, dan atau suara. Mengapa beruang air begitu mungil? Selamat, kamu telah lintasi aneka cuaca hidup begitu terampil!
Obligasi
Cara kita bersumpah begitu klise,
“Demi lumut-lumut
hidup di tempat tinggi!”
Seolah dewata memilih
menyiangi kacang dan palawija
Namun pengorbanan enggan surut:
di tiap lipat daun
dengan tebal satu dinding,
Aku memandangmu dengan sumpah
disebar angin dan serangga
“Demi lumut-lumut
yang mendiami kerak dan dinding batu!”
Bertopang pada akar semu dan rimpang,
Aku petik setiap archegonia
mati-matian dijaga perichaeta
Kuserahkan padamu sembari berbisik,
“Demi lumut-lumut
merayap di kulit kayu,
setapak,
aspal,
dan setiap sudut dunia.
Hanya ingin kuserahkan hidup
dan lingkarnya mustahil tanpa tirta.”
Katak dan Kepik
“Mulanya bukan begitu!” Kamu tergelak atas teoriku tentang metamorfosis yang bersabda, “sungguh aduhai jasad yang mendadak bertungkai, apakah perubahan tidak bisa dari sebiji telur menjadi dewasa?” Namun, mulanya selalu begitu, sayang; ujarku bersikeras. Metamorfosis adalah upaya pemenuhan: atas apa-apa yang tersedia serta kebutuhan yang merangkak di lajur waktu. Di banyak hal, “politik juga begitu, kan?” Kamu bertanya. Aku mengangguk karena urusan bertahan dan adaptasi tidak jauh dari evolusi dan revolusi. Alam terkembang begitu maskulin, sayangku, sementara pertiwi dan usianya menitahkan kita untuk saling menjaga. Kamu berbisik di telingaku saat aku menggigit selangkamu, “aku mencintai setiap keriuhan dan kepik yang terbang kerumunan di punggung batang pohon-pohon mati dan mayat-mayat mengingat saripati hidup diambil dari pembusukan hayat begitu alami.” Aku mencintaimu, akhirnya selalu begitu.





Leave a comment