Lakunya Marka

Lakunya Marka

“Marka ini memberi batas pada kewajiban?” tanya si jangkung.

“Bukan, marka ini memberi batas kepada arah para pengguna jalan,” jawab si kerdil.

Huh, pikirku. Kupikir marka ini memberi batas akan hak-hak pengguna jalan.

Dua orang tersebut tercenung lama sementara matahari terik di atas ubun-ubun. Bayangan mereka sudah sejajar dengan dimensi tampak atas, makin pekat dengan leleran keringat yang meluncur hingga telapak. “Kupikir, marka ini perkara kewajiban, deh,” celetuk si jangkung menunjuk marka yang putih putus-putus. Si kerdil memanyunkan bibirnya kemudian merepet, “Kewajiban untuk mengikuti peraturan lalu lintas, bukan?” Aku mendengar suara klakson yang amat kencang.

“Buset, bising amat!” seru si kerdil

“Siapa suruh berdiri di marka!” ketus si jangkung.

“Lah, kamu berdiri di marka?”

“Lah, aku berdiri di atas marka?”

“Bukan sampingnya?”

“Markanya lebar, dua orang muat.”

“Belum ganti pohon?”

“Hayo, keburu ganti pohon.”

Anggarannya tidak ada, ucapku. Kuartal ketiga belum beres laporannya untuk teken anggaran kuartal keempat. Menjelang akhir tahun, biar anggaran tidak dideduksi, biasanya untuk perkara jalan sih aspal atau galian kabelnya diotak-atik, bukan markanya. “Kamu dengar orang bisik-bisik?” tanya si jangkung. “Panasnya melelehkan otakmu itu, kamu jadi mendengar hal-hal!” seru si kerdil. Kemudian si jangkung menggenggam tangan si kerdil, “Kamu tidak keberatan kita berdiri di sini saat ini?”

“Pilihannya memang apa?” jawab si kerdil tersipu.

“Di tengah jalan?”

“Lah, marka ini kan tengah jalan.”

“Pinggir jalan?”

“Ya, marka ini kan secara teknis pinggir masing-masing lajur jalan.”

“Jadi kamu tidak keberatan?”

“Kalau menyebrang ke timur, nanti tersangkut truk. Kalau menyeberang ke barat, nanti terantuk sepeda motor.”

“Tapi tidak dengan kereta?”

“Kita kan di marka, bukan di rel.”

“Hmmm, mengapa tidak ada kereta?”

Bagaimana dengan bus? Aku bertanya. Bukankah kita butuh moda yang memuat lebih banyak jiwa sekaligus? “Tadi aku dibisiki, misal bus bagaimana?” tanya si jangkung. Si kerdil tercenung, “Kamu dibisikin siapa, tho? Kalau bus itu ribet, yang punya pemerintah armadanya jarang. Jalurnya memutar jauh. Kalau yang punya swasta, busnya sering mangkir uji kelayakan. Kentutnya hitam. Kursinya jelek. Banyak pengasong, pencopet, penipu, dan pe pe lainnya yang tidak sepatutnya ada. Belum pelecehan. Pokoknya, peh!

“Terus, kita harus bagaimana?”

“Ya percaya sama diri sendiri! Kita punya apa?”

“Kaki.”

“Maka, jalan kaki!”

“Jalurnya?”

“Marka pun jadi!”

Kaki-kaki telanjang dua orang tersebut melangkah menyusuri marka menuju utara. Matahari hanya bergeser ke barat sedikit. Bayang mereka agak panjang sedikit ke arah timur. Si jangkung menyela, “Sampai kapan kita harus berjalan?”

“Sampai markanya habis!” jawab si kerdil lantang.

“Sampai kapan kita harus bicara?”

“Sampai katanya habis!”

“Sampai kapan kita harus bernafas?

“Sampai nyawanya…lho, kok malah suicidal?”

“Hidup di jalan, apa tidak susah?”

“Hidup berjalan, apa tidak mudah?”

“Lagakmu! Aku haus.”

“Ya, minum!”

“Kamu ada?”

“Ya, nggak ada.”

“Lha, kok nyuruh? Lha, kok nyaran?”

“Punya masalah, ya selesaikan!”

“Ya sudah, beli minum di mana?”

“Di pinggir jalan sebelah barat.”

“Bukannya nanti terantuk sepeda motor?”

“Wah, sudah resiko.”

“Perkara minum saja riskan sekali.”

Perkara makan apalagi, ujarku. Tahukah kamu ketahanan pangan bangsa ini turun hingga sekitar tiga poin dari laporan tahun sebelumnya? “Wah, aku malah jadi lapar,” keluh si jangkung. Si kerdil merengut, menyodok-nyodok perut si jangkung dengan telunjuknya, “Perkaramu itu lho, perut melulu! Jalan dulu!”

“Memangnya kita belum sampai?”

“Lha, kan sampai marka habis!”

“Habis apanya?”

“Habis ketentuan lalu lintasnya!”

“Bukannya sampai tunai kewajiban?”
Sampai lunas semua hak, kalau kataku, sih.[]


Discover more from Kasat Kata Kultur

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a comment