Gora suka sekali mengambil buah coklat yang ditanam bapaknya. Pohonnya berjarak tempuh dua jam jalan kaki dari rumahnya masuk ke hutan. Lepas siang, ia selalu mengikuti bapaknya memanen buah coklat pada musimnya. Suka sekali ia memanjat pohon, merontokkan buah kekuningan yang rasanya masam. Pohon yang ditanam bapaknya tidak banyak, dua batang saja. Namun inilah kesenangan kecil milik Gora, selain milu siram olahan ibunya.
Gora meletakkan kartunya. Geram. Kalah lagi. Tanahnya semakin kecil sekarang. Nasoe.
Semula, hutan milik semua. Bukan luas lahan yang menjadi tanda kepemilikan, melainkan batang pohon yang ditanam. Aset milik keluarga Gora tumbuh, secara harfiah. Dua batang pohon coklat di dalam hutan dan empat batang pohon kelapa di leher bukit adalah milik bapak Gora dan keluarganya. Jagung dan ketela pohon dibiarkan tumbuh di dekat dapur dan kamar mandi rumah Gora. Jika lebih, selalu bisa jadi uang di pesisir, berjarak setengah hari jalan kaki dari rumahnya.
Gora mengintip kartunya. Hamma! Bakal untung!
Orang-orang pesisir menginginkan coklat lebih banyak lagi. Suatu kali, coklat yang dibawa bapak Gora menghasilkan banyak sekali uang. Bapak pe uang tidak pernah sebanyak ini. Cikal makan ikan dan daging seminggu! Gora riang. Bapaknya memutuskan menanam satu lagi pohon coklat.
Nabaya ntuu siko hii! Gora mengumpat ke bandarnya.
Orang-orang pesisir kemudian mendesak naik ke hutan. Urun menanam lebih banyak pohon coklat. Orang hutan seperti bapak Gora tidak mau kalah, ditanamnya lebih banyak coklat. Orang pesisir mulai menetapkan patok untuk lahan coklatnya. Orang hutan seperti bapak Gora tidak mau kalah. Kini di antara coklat, ditanami pula jagung-jagung. Sesekali terdengar keributan di hutan soal kepemilikan pohon. Ibu dan bapak Gora semakin sering bertengkar di rumah.
Gora tergelak. Kali ini dia pe untung besar sekali. “Bagi lagi kartu, leh!”
Bapak Gora geram. Sudah beberapa minggu harga coklat menurun. Ibu Gora sudah bosan bikin milu siram. Suatu hari, Gora pe bapak pulang dalam keadaan babak belur. Rupanya habis berkelahi dengan tengkulak coklat. Harga makin tidak karuan, ujarnya meringis. Ibu Gora hanya berdecak menghadapi tingkah suaminya. Toh, masih ada yang bisa dimakan, tidak melulu kita harus makan ikan, kata ibu Gora.
Gora sudah makin besar. Sudah saatnya kawin. Bapak Gora mulai membagikan tanahnya untuk menghidupi keluarga Gora kelak. Gora senang bukan main. Mulailah dia tanam jagung. Sayang, jagungnya meranggas. Tanamlah dia ketela. Sayang, tumbuh daunnya saja. Gora menyerah, dia meminta istrinya untuk mengambil jagung dari lumbung ibunya. Gora lebih suka menghabiskan hari di pesisir. Pulang hanya untuk bercinta saja.
Adik Gora sudah makin besar. Sudah saatnya kawin. Bapak Gora membagikan tanahnya untuk menghidupi keluarga adik Gora kelak. Gora cemburu bukan main. Adiknya mulai menanam jagung. Jagungnya lebat dan subur. Tanamlah adiknya ketela. Tumbuh daun dan penuh umbinya. Gora kesal, dia meminta istrinya untuk mengambil jagung dari lumbung ibu dan adiknya. Gora semakin suka menghabiskan hari di pesisir. Pulang hanya untuk bercinta dan sesekali mencuri jagung untuk dijual ke pesisir.
Gora dipiting orang-orang pasar. Dia baru membuat biru mata bandarnya. “Sa pe tanah makin kecil, jo!” Raungnya.
Bapak Gora meninggal. Ibunya sudah tidak punya tenaga mengurus ladang. Semua adiknya sudah menikah dan mengurus lahan masing-masing. Istrinya mulai berani bersumpah serapah. Gora semakin rajin ke pesisir. Seminggu karuan pulang. Istrinya mulai sering tidur dengan tetangga barunya, orang pesisir. Gora tidak peduli. Gora mulai ambil kartu.
Gora mulai gila dan rajin cari gara-gara.





Leave a comment