Laku Kreatif

Laku Kreatif

Diterjemahkan dari transkrip kuliah yang diberikan oleh Marcel Duchamp di Houston pada saat pertemuan American Confederation of Arts, bertanggal April 1957.

Mari mempertimbangkan dua faktor penting, dua kutub dalam penciptaan seni: seniman di satu sisi dan pemirsa di sisi lain yang kemudian menjadi bagian dari masa depan.

Tampaknya, seniman berlaku seperti makhluk perantara yang berasal dari labirin yang terletak di luar ruang dan waktu, mencari serta membuka jalan keluarnya sendiri.

Jika kita menyematkan sifat perantara kepada para seniman, maka kita tidak perlu mengacuhkan tingkat kesadaran pada taraf estetis tentang apa yang mereka lakukan dan mengapa mereka melakukannya. Semua keputusan seniman dalam penyelenggaraan artistik dalam karyanya terletak pada intuisi murni dan tidak dapat ditafsirkan dalam swaanalisis, tertulis maupun terucap, atau bahkan terpikirkan.

T.S. Eliot dalam esainya Tradisi dan Bakat Individu menulis: “Semakin paripurna seorang seniman, semakin terpisah dalam dirinya insan yang menderita dan nalar yang mencipta; semakin sempurnalah pula nalar yang mencerna dan mengubah renjana, yang merupakan bahannya.”

Jutaan seniman mencipta; namun hanya ribuan yang didiskusikan dan diterima oleh para pemirsa dan lebih sedikit lagi yang ditahbiskan oleh generasi-generasi masa depan.

Dalam analisis di atas, para seniman mungkin saja mengumandangkan bahwa ia adalah seorang jenius; namun, dia harus menunggu putusan dari para pemirsa agar deklarasinya dapat dipertimbangkan nilai sosialnya dan pada akhirnya, generasi masa depan akan memasukkannya dalam punca-punca Sejarah Seni.

Saya tahu bahwa pernyataan tersebut tidak akan diiyakan oleh banyak seniman yang menolak peran perantaranya dan bersikeras atas validitas akan kemawasan mereka sendiri dalam berlaku kreatif—pun, sejarah seni secara konsisten memutuskan nilai sebuah karya seni melalui pertimbangan yang benar-benar terlepas dari penjelasan terasionalisasi dari sang seniman.

Jika seniman, sebagai manusia, benar-benar dipenuhi oleh niat bajik atas dirinya dan seluruh dunia, tidak terlibat dalam mengukur karyanya sendiri, bagaimana bisa siapa pun dapat menjelaskan fenomena yang mendorong para pemirsa untuk menanggap secara kritis terhadap karya seni? Dengan kata lain, bagaimana tanggapan tersebut bisa hadir?

Fenomena ini dapat disetarakan dengan perpindahan dari sang seniman ke para pemirsa dalam bentuk osmosis estetis yang bekerja melalui materi lembam, seperti pigmen, piano, atau pualam.

Namun, sebelum kita semakin dalam, saya ingin mengklarifikasikan pemahaman kita tentang diksi ‘seni’—agar pasti, tanpa mengupayakan definisi.

Apa yang saya pikirkan adalah bahwa seni mungkin saja buruk, baik, atau tak acuh, tapi, apapun kata sifat yang digunakan, kita tetap perlu menyebutnya seni, dan seni buruk masihlah seni sebagaimana emosi buruk adalah emosi jua.

Maka, ketika saya menyebut ‘koefisien seni’, adalah untuk dipahami bahwa saya tidak hanya merujuk pada karya seni agung, tapi saya mencoba untuk menjelaskan mekanisme subjektif yang menciptakan seni dalam bentuknya yang mentah—à l’état brut—baik, buruk, atau tak acuh.

Dalam laku kreatif, para seniman berangkat dari intensi ke realisasi melalui rantai reaksi subjektif total. Pergumulannya menuju realisasi adalah serangkaian daya, upaya, kepuasan, penolakan, keputusan yang pula tidak bisa dan tidak boleh disadari sepenuhnya, setidaknya di taraf estetis.

Hasil dari pergumulan ini adalah perbedaan antara intensi dan realisasinya, perbedaan yang tidak disadari oleh sang seniman.

Sehingga, dalam rantai reaksi yang mendampingi laku kreatif, satu mata rantai hilang. Adalah jarak yang mewakilkan ketidakmampuan sang seniman untuk mengekspresikan intensinya betul-betul; perbedaan antara apa yang dia maksudkan dan terwujud, adalah ‘koefisien seni’ personal yang terkandung dalam karyanya.

Dengan kata lain, ‘koefisien seni’ personal adalah seperti hubungan aritmetika antara yang tidak terungkapkan namun dimaksudkan dan yang diungkapkan dengan tidak sengaja.

Untuk menghindari kesalahpahaman, kita harus ingat bahwa ‘koefisien seni ‘ adalah ekspresi pribadi atas seni à l’état brut, yang masih berada dalam kondisi mentah, yang harus diolah sebagaimana gula murni dari tetes gula oleh para pemirsa; angka koefisien ini tidak punya bantalan terhadap putusan para pemirsa. Laku kreatif mengambil aspek lain ketika pemirsa mengalami fenomena penjelmaan/transmutasi; melalui perubahan dari materi lembam menjadi karya seni, proses transubstansi berlangsung, dan peran para pemirsa adalah menimbang bobot karya seni dalam timbangan estetis.

Pada akhirnya, laku kreatif tidak dijalankan oleh para seniman saja; para pemirsa menyambungkan karya seni dengan dunia luar dengan membongkar dan menafsirkan kualifikasi batinnya dan menyematkan kontribusinya pada laku kreatif. Hal ini semakin terbukti ketika generasi masa depan menyampaikan putusan akhirnya atau bahkan terkadang merehabilitasi para seniman yang dilupakan sejarah.


Discover more from Kasat Kata Kultur

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a comment