Refleksi sesi pertama Kelas Menulis Sejarah Seni oleh Institut Sejarah Seni Indonesia bertajuk Menulis (Kembali) Mooi Indie: Bentang Alam, Sejarah, dan Masalahnya, bertarikh 19 April 2026. Sesi dibawakan oleh Dr. Aminudin TH Siregar dan dipandu oleh Rain Rosidi, M. Sn. via Zoom.
Lukisan sawah dan pegunungan itu ada di mana-mana. Saya menemukannya pertama kali di rumah buyut saya. Kemudian, rumah tante saya. Rumah teman sekolah saya. Ruang guru sekolah menengah. Hamparan padi yang kuning keemasan, kadang terasering kehijauan, gunung dan langit biru sebab posisi matahari yang menjerang khatulistiwa.
Saya mengetahui nama genre lukisan tersebut mooi indie ketika dicekoki sejarah seni lukis sederhana dari pelajaran seni budaya. Ketika menjajaki kuliah dan bersinggungan dengan beragam galeri, barulah saya dikenalkan dengan polemik-polemik di sekitar mooi indie.
Sesi pertama dari Kelas Menulis Sejarah Seni 2026 yang dibawakan oleh DR. Aminudin TH Siregar—dipanggil Ucok oleh rekannya—menyegarkan kembali ingatan saya soal polemik tersebut. Mooi indie awalnya digunakan sebagai tengara genre lukisan, dengan subject matter bentang alam. Dicetuskan oleh Fredericus van Rosssum du Chattel, mooi indie punya kedekatan wacana dengan romantisme pada akhir abad ke-18; utamanya pada pilar wacana yang menuntut apresiasi terhadap alam sebagai respon Aufklarung dan konsekuensinya—revolusi industri. Dari Du Chattel, mooi indie kemudian menjadi markah era ketika membicarakan sejarah seni rupa Indonesia.

Kehadiran nasionalisme (dan dugaan saya, materialisme dialektis) kemudian turut menyumbang kepada kegaduhan dalam wacana sejarah seni, khususnya perihal mooi indie. Via pena S. Soedjojono, mooi indie diletakkan tidak lebih dari fetisisme yang sarat wacana kolonial; dilukis oleh para turis (Soedjojono, 1939). Walau mooi indie barangkali berangkat dengan intensi yang beragam—pengarsipan, kenang-kenangan, atau bahkan apresiasi yang tulus—Soedjojono merasa disposisi kultural mooi indie tidaklah memenuhi dua syarat estetika: kebenaran dan keindahan (ibid.).
Usaha Kritik/Usaha Meluruskan
Salah satu yang mengganggu saya dari banyak studi komunikasi, sastra, dan seni adalah kecenderungan para (calon) sarjana untuk memeriksa perkara semiotika, namun menyerahkan diri pada kemapanan makna! Maksudnya, adalah tidak memeriksa lebih jauh representamen yang melahirkan interpretan yang melahirkan representamen dan seterusnya.
Kecenderungan tersebut melahirkan karya-karya yang malas, yang selalu menganggap merah adalah warna “berani” dan “ceria”; atau matahari sebagai simbol transendensi. Padahal, makna tersebut perlu diperiksa ulang konteks dan relasi triadiknya. Tidak bisa kita menghias rumah sakit anak dengan warna merah jika institusi tersebut sehari-harinya bergulat dengan darah. Jatuhnya menyeramkan!

Dalam konteks pergulatan wacana mooi indie, saya bersimpati dengan keresahan Bang Ucok soal kemapanan wacana yang dibawa oleh S. Soedjojono. Mooi indie menjadi sinonim dengan peyorasinya. Dia dibawa-bawa oleh para sarjana seni sebagai kerangka purwarupa wacana seni antihegemoni; yang ironisnya, menjelma hegemoni itu sendiri. Upaya-upaya untuk memeriksa ulang kritik semakin tenggelam, meluruskan malah kena label ‘kacung status quo’. Pascakolonialisme sebagai motivasi pemeriksaan tidak lagi kritis, celakanya malah menjadi dogma.
Nomenklatur Periode Sejarah Seni Indonesia yang Membingungkan
Secara garis besar, refleksi saya berakhir di atas. Namun, yang membuat saya tercenung dan mengganggu benak saya adalah ‘celetukan’ (rasanya lebih dekat ke…keluhan?) tentang periodisasi sejarah seni Indonesia yang menyebalkan bagi warga bhinnekasaraf seperti saya. Mulanya nama tokoh, kemudian nama genre, kemudian nama gerakan; nisbi nihil keajegan ontologis. Parameter yang berusaha menakar ‘apa’ selalu berubah; tidak terkecuali mooi indie yang harfiahnya bisa ditafsir sebagai Indonesia yang cantik.
Lha, kan memang?
Membaca Karya, Membaca Arsip, Membaca Filsafat, Membaca Gelagat (dan setadarusnya…)
Kritikus, penulis, dan sejarawan seni sudah seharusnya senang membaca, suka tidak suka. Jujur, saya jengah dengan para pelaku medan seni yang menolak menggali dunia lebih dalam; seolah-olah karyanya megah sendiri padahal cuma di kepala. Tabiat solipsis-narsisis ini perlu dibuang jauh-jauh, karena cogito ergo sum juga mensyaratkan anda untuk meragukan apa yang anda telah mapan yakini: maka itulah anda ada! Bisa dimulai dari seputar pemahaman permukaan kita tentang genre (dibilang gerakan juga…gimana, ya) seni yang disebut mooi indie ini.




Leave a comment