Kondisi Historis Materialisme Mooi Indie

Kondisi Historis Materialisme Mooi Indie

Refleksi sesi ketiga dan terakhir Kelas Menulis Sejarah Seni oleh Institut Sejarah Seni Indonesia bertajuk Menulis (Kembali) Mooi Indie: Bentang Alam, Sejarah, dan Masalahnya, bertarikh 2 Mei 2026. Sesi dibawakan oleh Jim Supangkat dan dipandu oleh A. Anzieb, M.Hum. via Zoom.

Ada pembacaan menarik oleh Jim Supangkat yang ingin saya garisbawahi: kondisi yang melahirkan mooi indie tidak terlepas dari kondisi alam yang kejam dan ekstrem di nadir musim—terutama musim dingin di Eropa. Para pelukis kelas borjuasi kecil (petty bourgeois) di abad ketujuh belas, didera oleh musim yang begitu jahat dan pilu, memutuskan untuk pergi ke khatulistiwa. Sesampainya dari perjalanan panjang yang memuakkan, mata mereka disuguhi oleh pemandangan indah dan cuaca yang ramah lagi hangat. Senewen menahun mereka sembuh, dan mereka kemudian memutuskan melukisnya.

Kemudianlah, secara garis besar, lahirlah apa yang disebut mooi indie, Hindia yang molek. Adjektif mooi sendiri menandai dua jenis cara pandang (gaze) pada zaman tersebut: kolonial dan laki-laki. Male gaze tampak karena subyek dinamai sebagaimana semat sifat perempuan. Pertanyaannya kemudian, lantas apakah ia ejawantah seksisme sebab zaman? Bukankah ada residu-residu wacana matriarkal ketika menafsirkan bumi—sebutlah, pertiwi? Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan ini patut dieksplorasi lebih lanjut melalui pisau bedah feminisme dan antropologi kritis. Saya belum bisa menyimpulkan apapun di refleksi berikut.

Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya datang dari colonial gaze. Sebab, lukisan pemandangan sudah dilakukan oleh perupa pribumi berabad-abad sebelum kedatangan mooi indie. Sebutlah kamasan, relief, dan gunungan. Apa sebenarnya yang membedakan wacana seni rupa mooi indie dari artefak-artefak sebelumnya? Apakah teknis? Apakah auteur? Apakah intensi?

Sebab, begini; rupanya—berdasarkan ujaran Pak Jim—para pelukis itu datang untuk mendokumentasi. Mereka bekerja, merekam, dan mengapresiasi. Tidak satu pun membawa wacana fine art atau seni adiluhung secara sengaja. Mereka pelukis vokasi, bukan filsuf. Borjuis-borjuis kecil ini mendapatkan akses pendidikan seni sebab generasi kedua/ketiga/keempat tuan tanah negeri asalnya memutuskan untuk tidak menyentuh seni. Sehingga, mooi indie sebagai wacana seni—alih-alih periode dalam sejarah seni rupa Indonesia—rasanya perlu ditambal. Maka, Soedjojono menulislah.

Ada satu hipotesis yang ingin saya sampaikan terkait dengan colonial gaze dan tabiat muasal mooi indie: jangan-jangan, mooi indie sebagai gejala zaman adalah jendela untuk mengintip watak kolonialisme yang kejam dan memiliki fetish terhadap alam. Sebab, alam bagi masyarakat kulit putih ini seringnya berwatak antagonistis, sehingga muncullah filsafat-filsafat yang sarat penaklukan di abad-abad tersebut. Saya perlu membaca lebih banyak pascakolonial dan menalar ulang via arkeologi pengetahuan sejarah seni Indonesia untuk menguji hipotesis ini.

Photo by Mochammad Algi on Pexels

Mooi indie yang dipermasalahkan oleh Soedjojono—merunut Pak Jim melalui esainya Menghadapi Stigma Mooi Indie—adalah komodifikasi seni yang marak dipraktikkan oleh penjaja seni rupa pinggir jalan. Kritik tidak ditujukan kepada para penjaja tersebut, mengingat posisi mereka sebagai prekariat. Sasaran kritik terletak pada kondisi historis dan relasi kelas yang mengizinkan pasar seni yang demikian—dengan kata lain, maraknya turis.

Komodifikasi di sini berarti ‘pendangkalan’ wacana; lukisan alam menjadi komoditas suvenir yang dangkal makna. Tradisi kritik di skena tersebut hampir nihil, karena label harga (price tag) sudah secara inheren tercantum ketika lukisan tersebut jadi. Naturalisme sebagai pangkal wacana kritik seni rupa pemandangan alam diabaikan. Sebab, sesampainya di kampung halaman para turis itu, lukisan-lukisan tersebut berakhir menjadi latar.

Jika diperkenankan untuk urun berpendapat, sasaran kritik Soedjojono sebenarnya jelas: suprastruktur kesenian rupa Indonesia. Kekaburan dirasakan mungkin karena ada idiosinkrasi sikap dalam mempersoalkan turisme dan lukisan pemandangan asongan, serta pemandangan alam yang menjadi subyek lukisan-lukisannya sendiri.

Yang saya pahami dari esai-esai Soedjojono adalah kritiknya terhadap penggagas mooi indie yang ia sebut turis itu: kurangnya intensi aksiologis (lack of axiological intent) yang melahirkan lukisan yang memiliki kedalaman laiknya portret. Kegagahan teknis tidak melulu tersulih pada keutuhan wacana; sehingga dengan mudah, mooi indie mendapat tempatnya sebagai komoditas yang direplikasi oleh pasar. Tentu saja, kaum prekariat yang melihat komoditas ini sebagai sarana sintas, kemudian menjajakannya laiknya asongan demi seperiuk nasi. Produksi lukisan dijauhkan dari relasi produksi, kelas, dan sejarahnya. Sehingga nilai yang tertera hanya bisa tampak pada label harga. Hal ini diperparah pula dengan minimnya pendidikan seni di kalangan konsumen seni. Maka, fenomena asongan menjadi terwajarkan.

Tentu saja saya sepakat dengan Pak Jim, bukan para naturalis yang diincar oleh Soedjojono. Pula, baiknya mooi indie diletakkan sebagai fenomena sejarah seni—bukan markah periodisasi. Begitu.


Discover more from Kasat Kata Kultur

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a comment