Titik Tolak Telaah Mooi Indie

Titik Tolak Telaah Mooi Indie

Refleksi sesi kedua Kelas Menulis Sejarah Seni oleh Institut Sejarah Seni Indonesia bertajuk Menulis (Kembali) Mooi Indie: Bentang Alam, Sejarah, dan Masalahnya, bertarikh 26 April 2026. Sesi dibawakan oleh Dr. phil. Vissia Ita Yulianto, S.Pd, M.Hum. dan dipandu oleh Nano Warsono, M.A. via Zoom.

Sebagai wacana seni yang berkembang di masa kolonial, mooi indie memiliki implikasi sejarah yang memilukan. Penjajahan meninggalkan banyak sekali jejak; tidak terkecuali di kepala dan di atas kanvas. Kesinisan Soedjojono menjadi valid; karena di balik kemolekan yang dijajakan mooi indie, ada realitas keji yang dialami oleh kakek dan nenek moyang kita. Keindahan menjadi selimur tidak jujur dari keburukan zaman.

Kita masih ingat betapa perihnya penjajahan, bahkan ketika dilahirkan hampir tiga generasi dari yang mengalaminya. Sejarah kolonialisme menjadi pelajaran penting dalam membangun identitas kebangsaan. Buku-buku yang membongkar sisa kekejaman kolonial yang bercokol di tanah air sudah banyak beredar. Genosida dan pengliyanan (othering) yang menjadi ciri khas kependudukan bejat Belanda bertanggar di ingatan warga, menjelma memori kolektif.

Berdasarkan pemaparan Dr. phil. Vissia Ita Yulianto, S.Pd, M.Hum.—oleh moderator forum dipanggil Mbak Ita—, memori kolektif merujuk kepada bagaimana ingatan selalu mempunyai akar kolektif. Artinya, jika ingatan adalah materi afektif dari apa yang disebut ‘diri’, ia tidak lepas dari peristiwa sosial. Ingatan tersebut pada gilirannya menjadi ihwal yang tersambung dengan bagaimana cara masyarakat menandai zaman (zeitgeist). Inilah yang menjadi basis ontologis ‘identitas’; tentang ‘sejarah’ di kepala masing-masing warga yang bergesekan. Yang dirasa ‘personal’ sekalipun, tidak pernah benar-benar tercerabut dari yang sosial. Perihal memori kolektif ini mengingatkan saya pada skizoanalisis, yang pernah saya tuliskan pengantar untuk memahaminya.

Gubuk Terakhir 85x135cm oil paint on canvas, Sukawati Art Market painting series 2011 oleh Made Bayak

Memori kolektif dalam tataran antropologis terekam dalam artefak-artefak kebudayaan seperti seni. Apa yang menjadi ingatan berusaha ditatah dan diabadikan dalam tafsir yang nisbi personal sebagai upaya untuk merawat sejarah dan identitas. Ada semacam harapan bahwa identitas dapat bertahan lintas waktu via penciptaan memori kultural. Atau setidaknya, tidak lekang; untuk kemudian digali oleh warga-warga di masa depan. Memori kultural berfungsi sebagai ‘kompas’ atau pemicu mnemonik; sebagai petunjuk untuk menavigasi sejarah lewat perspektif yang dibekukan oleh seni atau artefak kebudayaan lain.

Colonial Gaze

Pemaparan utama Mbak Ita berdasarkan deck yang beliau buat adalah paradoks; kemolekan mooi indie dan kekejian kolonialisme. Paradoks ini tampak lewat cara memori dikonstruksi via karya seni dan pemaparan sejarah. Namun, saya ingin menawarkan bahwa paradoks tersebut adalah pula jukstaposisi/ketersandingan.

Selama ini, mungkin ada sebagian dari kita yang menganggap bahwa karya seni merupakan representasi dari realitas yang membawa wacana sejarahnya sendiri—terlepas dari apakah jujur atau tidak jujur. Mooi indie tidak terkecuali. Lukisan indah negeri ini memang membawa wacana kemolekan lanskap masyarakat praindustri. Pengabaian terhadap realitas keji penjajahan barangkali bukan intensi yang memotivasi kekaryaan tersebut. Namun, pengabaian-pengabaian adalah pengabaian-pengabaian pula. Hal ini menjadikan mooi indie menjadi instrumen kekerasan laten untuk ‘mengoreksi’ ingatan kita tentang penjajahan. Maka, ia menjadi paradoks yang tersandingkan; kebenaran yang membawa kekerasan dalam dirinya sendiri (inherently).

Inilah yang saya maksud dengan colonial gaze: cara pandang yang memisahkan relasi produksi dan realitas di bawah sistem kolonialisme. Selaras dengan cara kolonialisme—sebagai moyang dari kapitalisme—bekerja, kebudayaan dan ekologi yang tertera dipisahkan dari manusianya. Menjadikan karya yang lahir dari cara pandang tersebut tidak lain merupakan fetisisme.

Usaha-usaha Dekolonisasi Wacana Seni Rupa

Tulisan Soedjojono harus dipahami sebagai upaya awal mula dalam mendekolonisasi wacana dan sejarah seni rupa di Indonesia. Dengan tidak mengetengahkan (centering) pewacanaan yang berasal dari perkembangan epistemik seni rupa Barat, Soedjojono telah mengambil langkah mula untuk menggugat wacana yang dibawa oleh mooi indie. Walaupun, gugatan dan pemeriksaan perlu terus dilangsungkan sebagai upaya dekolonisasi pengetahuan yang aktif. Dimulai dengan tidak menjadikan sabda Soedjojono sebagai firman yang mapan dan bebas kritik.

Usaha ini dapat terus berlanjut dengan menggali pengetahuan dan wacana seni alternatif. Penjelajahan epistemik harus terus dilangsungkan dengan mengenali fondasi kolonialnya dan kemudian membongkarnya. Pembongkaran bisa dimulai dengan menggali kembali kearifan lokal (local wisdom) dan mengurai muasal penalarannya. Sebagai metode, dekolonisasi sudah tampak dalam kekaryaan (lihat: Sukawati Art Market painting series, 2012 oleh Made Bayak). Kini, kita perlu menantikan, apakah upaya ini bakal tampak lebih banyak dalam penulisan sejarah dan kritik seni.


Discover more from Kasat Kata Kultur

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a comment